<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sahabat Kuliah[dot]com &#187; Islam</title>
	<atom:link href="http://sahabatkuliah.com/category/islam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sahabatkuliah.com</link>
	<description>Saling Berbagi Informasi,Hiburan,Puisi Melalui Tulisan</description>
	<lastBuildDate>Sun, 09 May 2010 06:51:43 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>&#8220;Gempa&#8221; Kembali Guncang Bumi Aceh</title>
		<link>http://sahabatkuliah.com/gempa-kembali-guncang-bumi-aceh/</link>
		<comments>http://sahabatkuliah.com/gempa-kembali-guncang-bumi-aceh/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Apr 2010 23:00:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Juli Andri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sahabatkuliah.com/?p=255</guid>
		<description><![CDATA[Assalamualaikum Wr. Wb
Sahabat kuliah yang saya sayangi. Sebuah kabar mengharukan kembali terjadi di Indonesia, tanah air tercinta tempat dimana kita di lahirkan. Mungkin anda masih ingat dengan kejadian 6 tahun silam atau tepatnya tanggal 24 Desember 2004 yang lalu. Sebuah gempa tektonik berkekuatan besar dan di susul dengan tsunami memporak-porandakan bumi Aceh. Seakan tak berdaya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamualaikum Wr. Wb</p>
<div id="attachment_256" class="wp-caption alignleft" style="width: 246px"><img class="size-medium wp-image-256" title="peta aceh" src="http://sahabatkuliah.com/wp-content/uploads/2010/04/peta-aceh-236x300.jpg" alt="peta aceh" width="236" height="300" /><p class="wp-caption-text">Gempa Aceh 2010</p></div>
<p>Sahabat kuliah yang saya sayangi. Sebuah kabar mengharukan kembali terjadi di Indonesia, tanah air tercinta tempat dimana kita di lahirkan. Mungkin anda masih ingat dengan kejadian 6 tahun silam atau tepatnya tanggal 24 Desember 2004 yang lalu. Sebuah gempa tektonik berkekuatan besar dan di susul dengan <strong>tsunami</strong> memporak-porandakan bumi Aceh. Seakan tak berdaya dan tak kuasa jika kita semua yang telah menyaksikan dengan mata kepala kita sendiri bagaimana dampak yang terjadi setelah gempa tersebut terjadi. Banyak korban jiwa yang berjatuhan dan bangunan-bangunan yang begitu megah nya harus rela hancur karena terjangan air laut yang datang secara tiba &#8211; tiba berselang setelah gempa tersebut terjadi. Namun, masyarakat aceh mencoba kembali bangkit untuk memulihkan kondisinya seperti dulu lagi dengan penuh keyakinan dan harapan yang ada.</p>
<p>Belum sembuh luka selama 6 tahun ini, di tahun 2010 ini atau lebih tepatnya di tanggal 7 April 2010 pukul 05.15 WIB, Aceh kembali di uji kesabarannya oleh Allah swt. Tidak tangung-tagung, gempa dengan kekuatan 7,2 SR membangunkan semua warga yang mungkin sebagian besar  masih tidur nyenyak. Gempa tersebut juga dirasakan masyarakat di sekitarnya termasuk Medan. Warga berbondong-bondong lari keluar rumah/gedung untuk berniat menyelamatkan diri.</p>
<p>Jika kita coba merenungkan apa hikmah di balik kejadian ini mungkin kita bisa berpikir secara logis. Mengapa Allah mengirimkan musibah di pagi hari? Tepat beselang 5 detik setelah Adzan subuh berkumandang dengan indahnya. <strong>Mungkinkah Allah swt Marah?</strong>. Silahkan anda jawab sendiri pertanyaan ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sahabatkuliah.com/gempa-kembali-guncang-bumi-aceh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sejarah Di Mulainya 1 Muharam Tahun Hijiriah Bagi Umat Islam</title>
		<link>http://sahabatkuliah.com/sejarah-di-mulainya-1-muharam-tahun-hijiriah-bagi-umat-islam/</link>
		<comments>http://sahabatkuliah.com/sejarah-di-mulainya-1-muharam-tahun-hijiriah-bagi-umat-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Dec 2009 03:53:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Juli Andri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sahabatkuliah.com/?p=220</guid>
		<description><![CDATA[Akhirnya,datanglah suatu masa dimana Nabi saw mengetahui bahwa dakwah Islam di Mekkah telah mengalami penekanan yang luar biasa sehingga keadaan sangat tidak mendukung bagi kaum muslim. Rasulullah saw bergerak dengan dakwahnya. Lalu Allah SWT mewahyukan kepadanya agar dia berhijrah. Kemudian mulailah Nabi berhijrah di jalan Allah SWT setelah tiga belas tahun beliau di Mekkah. Islam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sahabatkuliah.com/wp-content/uploads/2009/12/gambar-056.jpg"><img class="size-medium wp-image-223 alignleft" style="border: 1px solid #ccc; margin: 0px 5px 2px 0px;" title="gambar 056" src="http://sahabatkuliah.com/wp-content/uploads/2009/12/gambar-056-300x225.jpg" alt="gambar 056" width="300" height="225" /></a>Akhirnya,datanglah suatu masa dimana Nabi saw mengetahui bahwa dakwah Islam di Mekkah telah mengalami penekanan yang luar biasa sehingga keadaan sangat tidak mendukung bagi kaum muslim. Rasulullah saw bergerak dengan dakwahnya. Lalu <strong>Allah SWT</strong> mewahyukan kepadanya agar dia berhijrah. Kemudian mulailah Nabi berhijrah di jalan <strong>Allah SWT</strong> setelah tiga belas tahun beliau di Mekkah. Islam ingin membangun negaranya dan ingin menghilangkan pengepungan dan serangan kaum musyrik. Mula – mula terjadilah perubahan sedikit pada keadaan kaum muslim.</p>
<p>Rasulullah saw keluar dalam musim haji untuk menunjukkan dirinya pada kabilah-kabilah Arab sebagaimana yang beliau lakukan pada setiap muslim. Beliau berada di tempat yang bernama ‘Aqabah, lalu beliau bertemu dengan jamaah dari Khazraj. Rasulullah saw berkata kepada mereka, “siapa kalian?” mereka menjawab: “kami berasal dari kelompok Khazraj.” Beliau berkata,”apakah kalian termasuk pembantu kaum Yahudi?” mereka menjawab:”benar.”Beliau berkata,”maukah kalian duduk bersama aku karena aku ingin sedikit berbicara degan kalian.”mereka menjawab:”boleh.” Kemudian mereka duduk bersama Nabi lalu beliau mengajak mereka untuk mengikuti agama <strong>Allah SWT.</strong></p>
<p>Rasulullah saw sedikit menceritakan Islam kepada mereka dan membacakan Al-Qur’an. Enam orang mendengar apa yang di sampaikan oleh Nabi saw. Setelah beliau selesai dari pembicaraannya, mereka membenarkannya dan beriman kepadanya. Kemudian mereka menceritakan kepada Nabi saw bahwa mereka meninggalkan kaumnya karena kaum mereka terlibat peperangan dan kebencian. Mudah-mudahan <strong>Allah SWT</strong> mengumpulkan mereka dengan kedatangan Nabi saw yang mulia ini. Mereka memberitahu Nabi saw bahwa mereka akan menceritakan kepada kaumnya apa yang mereka dengar dari Nabi saw dan akan mengajak mereka untuk memenuhi dakwah Nabi saw.</p>
<p>Keenam lelaki tu kembali ke kota Madinah yang berubah namanya menjadi Madinah Munawarah yang sebelumnya ia bernama Yatsrib di zaman jahiliah. <strong>Allah SWT</strong> berkehendak untuk meneranginya dengan Islam. Para lelaki itu kembali ke Madinah dan mereka membawa Islam di hati mereka sehingga banyak orang yang masuk Islam.<span id="more-220"></span></p>
<p>Kemudian datanglah musim haji dan keluarlah dari Madinah dua belas orang lelaki dari orang-orang yang beriman yang diantara mereka terdapat enam orang yang Rasulullah saw telah berdakwah kepada mereka pada musim yang dulu dan Nabi saw menemui mereka di ‘Aqabah. Kemudian Nabi saw melakukan baiat pada mereka agar mereka mempertahankan keimanan dan membela dakwah kebenaran serta kemanusiaan.</p>
<p>Kaum lelaki itu kembali ke Madinah disertai salah seorang yang terpercaya dari tokoh Islam yaitu Mus’ab bin Umair dimana dia menjadi utusan Rasulullah saw di Madinah dan dia mengajari manusia tentang agama mereka dan membacakan kepada mereka Al-Qur’an dan menyerukan kebenaran kepada manusia sehingga tersebarlah Islam di Madinah. Penduduk Madinah mulai bertanya-tanya, mengapa saudara-saudara kita kaum Muslim Mekkah ditindas? Mengapa Rasulullah saw keluar untuk berdakwah dan menebarkan rahmat tetapi beliau justru mendapatkan angin kebencian? Sampai kapan kita akan membiarkan Rasulullah saw teraniaya dan terusir di Mekkah?</p>
<p>Demikianlah, pergilah tujuh puluh orang ke Mekkah, tujuh puluh orang dari penduduk Madinah Munawarah. Mereka pergi ke ‘Aqabah dalam keadaan sendirian dan berkelompok-kelompok. Islam telah menghasilkan buah pertamanya dalam hati mereka sehingga hati mereka di penuhi cinta kepada <strong>Allah SWT</strong> dan RasulNya serta kaum muslim. Penderitaaan yang dialami kaum muslim mempengaruhi jiwa mereka dan mencegah mereka dari kenikmatan tidur dan nikmatnya memakan dan nikmatnya kehidupan. Orang-orang yang baik itu datang dan berbaiat kepada Rasulullah saw untuk membela beliau menolongnya dan melindunginya serta siap untuk mati di jalannya. Mereka datang setelah hati mereka diliputi oleh Islam dan mereka meberikan segala sesuatu untuk dakwah yang baru; mereka datang sebagai pecinta-pecinta kebenaran.</p>
<p>Kitab-kitab hadis yang suci meriwayatkan apa yang terjadi pada baiat ‘Aqabah al-kubra. Dalam kitab tersebut dikatakan bahwa Abbas Ibnu Abdul Muthalib datang bersama Nabi dan saat itu dia masih berada dalam agamanya kaumnya. Dia ingin menyelesaikan urusan anak pamannya. Ketika dia duduk dan berbicara, dia mengatakan suatu pertanyaan yang mengisyaratkan bahwa Muhammad saw mendapatkan kemuliaan dari kaumnya dan kekuatan di negrinya tetapi dia enggan dan memilih untuk bergabung bersama kalian wahai penduduk Madinah. Jika kalian memenuhi janjinya dan melindunginya maka ambillah dia, namun jika kalian khawatir jika suatu saat nanti akan mengkhianatinya maka mulai dari sekarang biarkanlah dia di negerinya.</p>
<p>Kata-kata Abbas tersebut berasal dari fanatisme kesukuan dan ikatan darah keluarga namun penduduk Madinah tidak begitu peduli dengan kalimat Abbas itu karena dia bukan termasuk dari agama mereka dan dia tidak mengetahui tingkat cinta kepada Rasulullah saw yang mereka capai. Abbas bin Abdul Muthalib menunggu jawaban dari penduduk Madinah. Lalu mereka berkata kepadanya, “kami telah mendengar apa yang engkau katakan maka berbicaralah ya Rasulullah, ambilah untuk dirimu dan Tuhanmu apa saja yang engkau sukai.”</p>
<p>Kita ingin mengamati jawaban sekelompok orang yang mungkin dari penduduk Madinah ini sehingga Rasulullah saw berbicara. Jawaban yang di cari oleh Abbas bin Abu Muthalib tersembunyi dalam pernyataan Nabi. Demikianlah setelah Rasulullah saw mengucapkan kalimatnya maka tidak keluar pernyataan apapun. Cukup hanya Nabi yang berbicara dan mereka hanya menantinya. Mereka meminta kepada beliau agar mengambil pada dirinya dan Tuhannya apa saja yang beliau sukai; mereka merasa tidak memilik apa-apa dan tidak memiliki keputusan. Nabi berbicara lalu beliau membaca Al-Qur’an dan mengajak kejalan <strong>Allah SWT</strong>. Kemudian beliau berbicara tentang Islam dan beliau membaiat mereka agar membantu beliau sehingga merekapun membaiat kepadanya. Demikianlah terjadinya baiat ‘Aqabah al-Kubra.</p>
<p>Orang-orang yang terpilih<strong> </strong>oleh <strong>Allah SWT</strong> itu mengetahui bahwa sebentar lagi mereka akan diajak untuk mengang kat senjata; mereka diajak untuk mendapatkan kematian di bawah pedang. Mereka menenangkan Rasulullah saw bahwa beliau akan mendapati orang-orang yang sudah terlatih dalam peperangan karena mereka mewarisi dari kakek-kakek mereka.</p>
<p>Salah seorang dari tujuh puluh orang itu menyebutkan masalah yang penting. Abul Haitsyam berkata: “ sesungguhnya diantara orang-orang Madinah dan Yahudi terdapat suatu tali ikatan maka mereka boleh jadi akan memutuskannya lalu, apakah sikap yang harus kita ambil jika mereka lakukan hal itu dan memusuhi orang Yahudi.” Kemudian <strong>Allah SWT</strong> menolong Nabi saw dan memenangkan atas kaumnya, lalu dia kembali kepada mereka dan meninggalkan mereka dibawah kasih sayang orang-orang Yahudi.</p>
<p>Perhatikanlah bahwa pernyataan tersebut berkisar pada kecintaan kepada Nabi dan keinginan agar Nabi tetap bersama mereka selama perjalanan hari dan bulan. Masalah yang di tuntut oleh Abbas bin Abdul Muthalib secara jelas adalah masalah perindungan mereka kepada Nabi, di mana hal tersebut  tidak lagi diperdebatkan oleh orang-orang yang tepilih dari penduduk Madinah. Namun masalah yang mereka inginkan adalah masalah perlindungan Nabi dan keberadaan Nabi bersama mereka di Madinah.</p>
<p>Nabi tersenyum dan beliau mengatakan kalimat-kalimat yang justu menekankan bahwa ikatan akidah lebih kuat dari pada ikatan darah. Beliau berkata: “tetapi darah adalah darah dan kehancuran adalah kehancuran. Aku dari kalian dan kalian dariku aku akan memerangi orang-orang yang kalian perangi dan aku akan berdamai dengan orang-orang yang kalian berdamai dengan mereka.”</p>
<p>Akhirnya, penduduk Madinah pergi dan kembali ke negeri mereka. Kemudian berita tentang baiat ini sampai ketelinga orang-orang Mekah dan para tokoh musyrik, lalu mereka justru menambah penekanan kepada Rasulullah saw dan kaum muslim.</p>
<p>Para preman Mekah berkumpul di Darul Nadwah. Mereka menetapkan akan mengambil suatu keputusan penting berkaitan dengan Nabi. Salah seorang dari mereka mengusulkan agar beliau di belenggu dengan besi lalu di buang ke penjara sehingga beliau mati kelaparan. Sebagian lagi mengusulkan agar beliau di buang dari Mekkah dan diusir. Abu Jahal mengusulkan agar mereka mengambil dari setiap keluarga dari keluarga-keluarga Quraisy seorang pemuda yang kuat, kemudian setiap dari mereka di beri pedang yang terhunus dan hendaklah mereka memukulkan pedang itu ke tubuh Nabi. Jika mereka berhasil membunuhnya niscaya semua kabilah bertanggung jawab darah sang Nabi dan Bani Hasyim tidak akan mampu menuntut dan memerangi orang Arab semuanya dan mereka akan menerima diat sebagai tebusan dari pembunuhan itu. Demikianlah persekongkolan itu di gelar dan mereka sepakat untuk melaksanakan hal itu. Namun Al-Qur’an al-Karim menyingkap persekongkolan yang dilakukan orang-orang kafir itu dalam firman-Nya:</p>
<blockquote><p><em>“<strong>dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir memikirkan tipu daya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya itu</strong>. <strong>Dan</strong> <strong>Allah</strong> <strong>sebaik-baik Pembalas tipu daya</strong>.”</em> (QS. Al –Anfal:30)</p></blockquote>
<p><strong>Allah SWT</strong> mewahyukan kepada Nabi-Nya agar dia berhijrah. Lalu Nabi mulai menyiapkan sarana-sarana untuk hijrahnya. Beliau menyembunyikan urusan tersebut bahkan beliau tidak memberitahu sahabat yang akan menemaninya. Rasulullah saw menyewa seorang penunjuk jalan yang pengalaman yang mengenal padang gurun seperti mengenal garis-garis tangannya. Yang mengherankan penunjuk jalan itu adalah seorang musyrik. Demikianlah Nabi meminta bantuan kepada orang yang ahli tanpa memperhatikan keyakinannya.</p>
<p>Kemudian datanglah malam pelaksanaan kejahatan itu. Rasulullah saw memerintahkan Ali bin Abi Thalib untuk tidur di tempat tidurnya di malam tersebut. Datanglah pertengahan malam dan Rasulullah saw pun keluar dari rumahnya. Para pemuda Mekkah mengepung rumah. Mereka menghunuskan pedangnya. Nabi menggenggam tanah lalu beliau melemparnya ke arah kaum sehingga mereka pun merasa kantuk sehingga Nabi saw dapat menembus kepungan mereka. Beliau keluar dari Mekkah dan berhijrah.</p>
<p><strong>Dengan langkah yang di berkati ini, kaum Muslim menanggali tahun-tahun mereka. Tahun dalam Islam adalah tahun Hijiriah</strong>, sedangkan kaum Masehi menanggali tahun mereka dengan kelahiran Isa dan ini di sebut dengan tahun Masehi. <strong>Adapun tahun-tahun Islam maka ia di tanggali pertama kalinya saat Rasulullah saw keluar berhijrah di jalan</strong> <strong>Allah SWT</strong></p>
<p><strong><em><span style="color: #ff6600;">NB: Di kutip dari beberapa sumber dengan tujuan untuk berbagi kepada kaum muslimin agar mengingat kembali  bagaimana sejarah di mulainya 1 Muharam Tahun Hijiriah. Semoga Allah meridhoi kita semua. Amin Yaa Rabballalamin&#8230; </span></em></strong></p>
<p><strong><em><span style="color: #ff6600;">Selamat Tahun Baru Hijiriah&#8230;.<br />
</span></em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sahabatkuliah.com/sejarah-di-mulainya-1-muharam-tahun-hijiriah-bagi-umat-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>NERAKA JAHANNAM &amp; SIKAP SAHABAT RA</title>
		<link>http://sahabatkuliah.com/neraka-jahannam-sikap-sahabat-ra/</link>
		<comments>http://sahabatkuliah.com/neraka-jahannam-sikap-sahabat-ra/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Dec 2009 13:42:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Juli Andri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sahabatkuliah.com/?p=216</guid>
		<description><![CDATA[ANAS bin Malik riwayatkan, suatu ketika malaikat Jibril turun ke bumi menyampaikan wahyu untuk Rasulullah saw. Sesudah menerima wahyu, Rasulullah saw terisak-isak. Menangis. Beliau saw menanggungkan beban hati luar biasa berat tampaknya. Beberapa sahabat yang hadir pun ikutan menangis. Mereka belum mengetahui wahyu yang dibawa malaikat Jibril yang sedemikian Rasulullah saw berurai air mata tangis. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>ANAS bin Malik riwayatkan, suatu ketika malaikat Jibril turun ke bumi menyampaikan wahyu untuk Rasulullah saw. Sesudah menerima wahyu, Rasulullah saw terisak-isak. Menangis. Beliau saw menanggungkan beban hati luar biasa berat tampaknya. Beberapa sahabat yang hadir pun ikutan menangis. Mereka belum mengetahui wahyu yang dibawa malaikat Jibril yang sedemikian Rasulullah saw berurai air mata tangis. Di sela derai air mata, air muka Rasulullah saw merona gembira tiap menatap paras wajah Fatimah, puteri beliau. Detik-detik meregang, tak satu sahabat yang berani bertanya gerangan apa yang terjadi. Abdurrahman bin Auf berencana mau menanyakannya nanti kepada Fatimah, beban apa yang ditanggungkan Rasulullah saw hingga beliau berisak air mata.</p>
<p>Umar bin Khatab riwayatkan, Abdurrahman bin Auf benar-benar berkunjung ke pondok Fatimah.</p>
<p>Di depan pintu pondok Abdurrahman bin Auf menyerukan salam, “Assalamu’alaiki, wahai puteri Rasulullah saw. Fatimah membalas salam, “Siapa engkau?” Jawabnya, “Saya Abdurrahman bin Auf.”</p>
<p>Fatimah bertanya dari dalam pondok, “Ada keperluan apa engkau datang kemari?” Abdurrahman menyahut, “Diriku lihat Rasulullah saw berisak tangis begitu menerima wahyu Allah yang dibawa malaikat Jibril tadi. Kami belum mengetahui wahyu apa yang membuat Rasulullah saw sesedih itu.” Fatimah membilang, ‘Tunggu sebentar. Aku rapikan pakaian dan segera menghadap Rasulullah saw. Semoga beliau memberitahuku apa yang disampaikan malaikat Jibril kepada Rasulullah saw.”</p>
<p>Fatimah keluar pondok kenakan pakaian bersalut kain selimut sangat bersahaja, dijahit dengan serat daun kurma di dua belas tempat. Dan pehikayat, Umar bin Khatab, yang pas melintas di sana melihatnya penuh masygul, “Sedih hatiku lihat kesederhanaan Fatimah. Para putri kaisar dan raja semua kenakan pakaian kain sutera yang mewah. Tapi Fatimah, putri seorang nabi dan rasul, yang kemuliaan, keagungan dan kekuasaannya melebihi para penguasa dunia rela kenakan kain kasar dijahit dengan serat daun kurma bertambal di dua belas tempat.”</p>
<p>Di hadapan Rasulullah saw Fatimah berseloroh, “Wahai ayah. Tahukah engkau, Umar iba melihat pakaianku? Demi Dzat yang mengutusmu dengan kemuliaan. Sungguh lima tahun perkawinanku dengan Ali Bin Abi Thalib tiada pernah kami tidur di atas kasur empuk. Kami tidur hanya di atas kulit domba. Bila siang hari kulit domba tersebut kami gunakan untuk gerai barang dagangan di atas onta,</p>
<p>malamnya kami jadikan alas tidur. Dan bantal tidur kami kulit domba samakan berisikan daun-daun kurma.”</p>
<p>Rasulullah saw tersenyum lembut, “Wahai Umar sahabatku. Janganlah engkau terlalu memikirkan keadaan puteriku. Boleh jadi dalam kesempatan lain dia mengejar ketertinggalannya dari puteri-puteri pembesar lain.” Kesempatan yang lain itu adalah pada kehidupan akhir. Kepastian Fatimah sebagai ahli surga, telah meronakan gembira wajah Rasulullah saw di sela-sela sedu sedan beliau menerima wahyu.</p>
<p>Fatimah bertanya dalam-dalam. “Wahai ayah. Apa yang sebabkan dirimu menangis?” Rasulullah saw menerangkan, “Puteriku. Bagaimana aku tidak menangis sedang malaikat Jibril datang membawa ayat padaku: ‘Dan sesungguhnya neraka jahanam diancamkan untuk semua manusia’!”</p>
<p><strong>Fatimah memohon agar Rasulullah saw jelaskan gambaran neraka Jahanam.</strong></p>
<p>Rasulullah saw bersabda, “Wahai putriku. Sungguh pintu terkecil neraka Jahanam terdiri dari tujuh puluh ribu gunung berapi yang sangat panas. Masing-masing gunungnya memiliki tujuh puluh ribu jurang menganga api yang ganas. Masing-masing jurangnya memiliki tujuh puluh juta tebing api yang menghanguskan. Masing-masing tebing jurangnya mempunyai satu juta kota-kota api. Dan masing-masing kota api memiliki tujuh puluh juta komplek perumahan api. Lalu, masing-masing perumahan api memiliki satu juta rumah api. Masing-masing rumah api memiliki tujuh puluh juta ruangan api</p>
<p>yang bergolak. Masing-masing ruangan api memiliki tujuh puluh juta sudut berapi. Masing-masing sudut memiliki sejuta macam siksa yang berlainan. Tak ada manusia yang sanggup menanggung satu siksaannya.”</p>
<p>Berjuta macam siksa yang mengerikan dan belum pernah terselenggara di dunia sejak manusia pertama hingga manusia terakhir. Kekejaman, kebengisan paling liar dan brutal yang belum pernah tercakup dalam imajinasi paling keji penyiksaan atas manusia.</p>
<p>Mendengar penjelasan Rasulullah saw, yang kebenarannya pasti, Fatimah sontak jatuh tersungkur dan menjerit, “Aduh. Betapa celaka orang yang masuk neraka Jahanam!”</p>
<p>Pun Umar bin Khatab menjerit, “Oh. Andai saja diriku menjadi seekor domba milik keluargaku. Mereka sembelih dan cincang-cincang tubuhku lalu direbus, aku lebih selamat, karena tidak terancam siksa neraka Jahanam. Bila menjadi domba, tak terancam diriku dari Jahanam.”</p>
<p>Abu Bakar menekurkan wajah, “Duh. Andai saja aku hidup sebagai burung di rimba. Makanku hanya buah-buahan serta minum air di sungai dan bersarang di rerantingan pohon, aku lebih selamat. Aku terbebas dari hisab, tidak terancam siksa neraka, tidak perlu kuperhatikan penjelasan ancaman neraka Jahanam.”</p>
<p>Sekeluar dari pondok Rasulullahg saw, Ali Bin Abi Thalib bergumam, “Aduh. Andai saja ibuku tidak melahirkan diriku, andai saja aku mati kala masih bayi. Andai saja aku ini rerumputan yang dimangsa ternak. Andai saja aku ini satwa hutan yang dagingku dimakan manusia. Maka aku tak perlu mendengar penjelasan ancaman siksa neraka Jahanam. Maka aku lebih selamat.”</p>
<p><em>Sumber : Ustad Yusuf Mansyur from Facebook</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sahabatkuliah.com/neraka-jahannam-sikap-sahabat-ra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
